![]() |
| Gelschaft Redriency |
Nama gue Gelschaft
Redriency, tapi di panggil caca. gue anak paling bungsu, gue blasteran yang
baru saja pindah ke Jakarta, dan sudah sekitar 2 bulan tinggal di Jakarta.
Banyak pengalaman
baru di Jakarta, dapet temen baru,
bahasa baru, sekolah baru dan masih banyak lagi.
Aku sekolah di salah
satu SMA favorit, itu kata temen aku, dan juga orang
tua ku. Tapi bagi aku sekolah itu biasa aja, yaa gak tau juga kenapa!
Aku punya banyak
kenalan baru di sana, malahan sahabat baru yang gak pernah aku jumpai di London
ada di Indonesia. aku sangat
suka sama negeri ini, sayang nya ternyata masih banyak orang yang gak mampu di
negeri ini. yang aku denger Di sana-sini penjabat nya banyak yang korupsi.
Kasihan pikir ku negeri ini, tapi
buka itu yang akan aku share, aku bakal share singkat cerita gue di Jakarta.
Pagi yang mendung,
membuat aku makin malas buat pergi ke sekolah baru. Aku yang masih terbaring
tanpa memperdulikan teriakkan ibu ku yg membuat telinga ku berdesing. Di saat itu juga, jam waker milik ku yg
bergetar yg membuat aku semakin mencoba buat terbangun dalam mimpi indah yang
gak sempat di lanjutin.
“caca” teriak ibu
ku dari pintu kamar ku, “iya ma..caca bangun” aku yg masih mencoba mengumpul kan nyawa pada pagi itu. Ku lihat jam
weaker ku menunjuk jam 6.30, aku sangat terkejut karna yg aku ingat, sekolah
baru ku itu masuk jam 07.00 . aku bersih2 badan ku, gosok gigi, memakai baju
sekolah, menyisir rmbut, ku habis kan wktu itu dlam 15 menit, jam menunjukkan
pukul 6.45.
Aku yg lari tugang
langgang karna lagi buru2 jadi gak sempet buat srapan pagi. Aku langsung
mengayuh sepda ku dengan tergesa-gesa. Di tengah perjalanan, aku gak sengaja
melanggar pejalan kaki laki2. “aduh” rintih nya kesakitan “loh gak apa2 kan?”
Tanya gue kebinggungan.
“iya..iya..aku gak
apa2..toh kamu juga gak sengaja” jwb nya tersenyum, kulihat bju yg di kenakan
nya sama dengan punya ku, jadi ku piker dia satu sekolah dengan ku “ kamu
sekolah di SMA […}??” Tanya
ku. “iya,,memng nya kenapa? Apa kamu juga siswi di sna?” Tanya nya sambil membersih kan baju nya.
“iya..eh kamu mau gak ikut sama aku, kan bentar lagi mau masuk tuh, biar kamu
yg gonceng aku..mau gak?” tanpa basa-basi.
“ehmm..boleh
juga…” shut nya. Di dlam perjlnan cowk itu mengenal kan nama nya, dia bilang
nama nya itu iqbaal. Aku juga bilang sama dia, kalau nama aku caca.
Tanpa melihat waktu,
ternyata kami pun sampe tepat pada wktu nya. “hehe..maksih ya udh
mau numpangin gue! Kalo enggak, mungkin gue udh telat!” ucap nya sembari
tertawa. “iya..iya...senang bertemu dengan mu! Aku murid baru di sini, jadi..aku...senang
bertemu dengan mu!” ucap ku gugup.
“oh iya..aku ke kelas dulu ya cha!” ucap nya sembari berlari ke arah kelas
yang di tuju. “huh! Pagi yang beruntung! Aku harus segera pergi ke ruang guru
dulu nih!” pikir ku. Berjalan menuju kantor kepala sekolah, dan akhir nya kelas
ku sudah di tentu kan. Aku berjalan mengikuti guru yang membimbingku.
“pagi anak2? Bagaimana liburan nya?” tanya guru tersebut.
“baik bu!” jawab seluruh siswa/i. “hari ini kita kedatangan murid baru dari
luar negri! Silahkan masuk!” ucap guru tersebut sembari melihat ku. “senang
bertemu dengan kalian semua, perkenalkan nama ku Gelschaft redfiendcy! Panggil saja aku chaca!” ucap ku tersenyum.
“senang juga bertemu dengan mu chaca!” bisik guru tersebut. “silahkan duduk
chaca!” tambah nya. Satu bangku ku lihat kosong, dan ku lihat juga siapa teman
sebangku ku. “hay chaca..senang bertemu dengan mu! Kau sangat manis!” ucap nya
berjabat tangan dengan ku. “terima kasih, oh iya..nama kamu siapa?” tnya ku
kepada nya. “oh iya...nama ku celia!” ucap nya tersenyum. Pelajaran pertama dan
kedua udah di lewati, waktu yan tepat untuk beristirahat. “celia...kamu mau ke
kantin bereng aku nggak?” tanya ku. “ehhmm..baiklah!” jawab nya sembari
tersenyum. Akhir nya berjalan lah kami berdua menuju kantin. “hallo..ada anak
baru nih! Enak nya di apain ya?” teriak seorang perempuan. “hey..jangan ganggu
teman aku ya luna! Atau kamu nggak aku bolehin deket2 sama iqbaal!” ucap celia
kepada orang tersebut. “baiklah adikku! Silahkan saja lewat! Jangan lupa iqbaal
milik kakak mu ini!” ucap nya dengan nada kasar. Ku lihat wajah celia terlihat
marah dengan perlakuan perempuan tersebut, sambil berjalan menuju ke kantin. Aku
putus kan untuk memesan nasi goreng saja, celia juga memesan satu. “mm..celia?
apa aku boleh bertanya sesuatu?” tanya ku dengan penasaran. “ada apa cha?”
jawab nya dengan wajah enggak enak kan. “perempuan tadi itu siapa?” tanya ku
membuat celia memalingkan wajah nya. “dia itu jelica! Aku tidak menyukai sifat
nya terhadap ku!” ucap nya dengan nada sedih. “kenapa kau tak menyukai nya?
Apakah dia pernah membuat mu kesal?” tanya ku semakin penasaran. “terlalu
banyak buat aku bilang masalah nya terhadap ku! Aku membenci nya karena dia
ingin mendekati sepupu ku dengan cara yang tidak masuk akal, dengan cara
menyandra ku! Tujuan nya hanya untuk mendapat kan iqbaal!” jelas nya menetes
kan air mata. “maaf seblum nya ya celia, aku enggak bermaksud membuat mu sedih!”
ucap ku tak enak. “tidak apa2 cha! Aku hanya tidak ingin iqbaal dekat dengan
jelica! Seharus nya iqbaal tuh dpat perempuan yang cantik, baik, pinter lagi!
Sedangkan kenyataan nya....” ucap nya tak dpat menerus kan perkataan nya. “memang
nya iqbaal menjalin hubungan dengan jelica?” tanya ku. “tidak! Iqbaal tidak
akan menyukai perempuan seperti dia! Sudah lah ayo makan!” jawab nya melanjut
kan makan nya. Aku juga
melanjut kan makan ku dengan perasaan yang tidak enak setelah kejadian sebelum
nya. “eh..cha, loh mau nggak gue kenalin sama iqbaal?” Tanya celia. “eh?
iqbaal? Mungkin aku sudah mengenal nya!” ucap ku membayar makanan ku. “ha? Apa
benar loh udh ketemuan sama iqbaal? Gimana? Tampan kan?” Tanya nya mengoda ku.
“lumayan..ato bisa di bilang dia itu sangat malu kalo deket sama cewek!” ejek
ku berlari dari celia. “ha? Ya enggak lah! Cha tungguin dong!” teriak nya
mengejar ku. Ku lihat celia mendekati ku, saat aku membalikkan bdan ku
mengahadp ke depan bruaaakkk.
“aduh..sakit banget” keluh ku menunduk kan kepala ku menahan rasa sakit.
“cha..loh nggak apa2 kan? Loh sih pake acara kejar-kejaran segala!” ucap celia
mengoceh. “eh..kamu nggak apa2 kan?” Tanya cowok tersebut mengulur kan tangan
nya. “iya..iya..aku enggak apa2 kok! Ini salah ku, maaf ya?” ucap ku mencoba
berdiri. “iqbaal?” teriak celia mengejut kan ku. “hah?” aku terkejut, karena
melihat dia lagi, orang yang tdi pagi aku tabrak dengan sepeda ku, dan sekarang
aku menabrak nya lagi. “eh celia? Ini teman kamu ya?” Tanya nya tersenyum.
“iya..maaf ya baal, dia itu memang agak ceroboh!” jelas celia yang membuat
wajah ku menjadi cemberut. “kamu enggak apa2 kan cha?” Tanya nya melihat ku.
“iya aku enggak apa2 kok!” ucap ku mencoba membersih kan baju ku. “sebagai
permintan maafan nya, bagaimana kalau aku ajak kamu jalan2 sore ini?” Tanya
iqbaal. “eh? enggak perlu repot2 kok! Kan aku yang menabrak mu, kenapa harus
kamu yang minta maaf sama aku?” aku terkejut tak percaya saat iqbaal mengatakan
seperti itu. “yaaa…sebagai salam perkenalan aja!” iqbaal tersenyum bingung.
“kamu baik banget baal, tapi maaf aku tidak bisa…soal nya siang ini aku harus
mengerjakan tugas bareng celia!” aku menolak permintaan iqbaal dengan lembut.
“oh…nggak apa2 kok! Celia! Kamu punya temen yang baik banget!” bisik iqbaal di
telinga celia, tapi masih terdengar oleh ku. Ku lihat iqbaal yang berjalan
melirik ku, dia tersenyum kepada ku, jadi aku balas juga tersenyum. Tuuuttt bunyi bel sekolah yang mengaget
kan aku, ternyata itu pertanda kelas telah selesai. “aku duluan ya cha! Ingat
ya jam 2 sore ke rumah ku!” ucap celia yang mencoba mengingat kan aku. “iya…!”
jawab ku tersenyum sambil mengemas kan buku2 mata pelajaran yang berantakkan di
atas meja ku. “aku bantuin mau nggak?” Tanya seorang pria yang duduk di
belakang ku. “ah? Enggak usah kok, ini udah tinggal dikit lagi kok!” aku
mencoba memasukkan satu persatu buku ku, dan akhir nya selesai juga. “nama kamu
chaca kan?” Tanya nya dengan lembut. “eh? iya…kalau kamu siapa?” Tanya ku
melihat wajah nya. “perkenal kan nama aku bastian! Dan ini aldi!” ucap nya
mencoba memperkenal kan nama nya. “woy…cepetan dikit napa? Gue udah lama nunggu
nih!” teriak seorang pria yang berdiri di depan pintu kelas. “iya nih! Aku
harus pulang cepat2, kalau enggak, bisa2 ibu aku marah lagi!” tambah seorang
pria yang tidak asing lagi bagi ku. “bye cantik, aku pulang dulu ya…bagi no. hp
kamu dong!’” ucap bastian dengan genit nya. “eh? chaca?” iqbaal menunjuk ku
dengan wajah terlihat heran. “loh kenal sama dia baal!” teriak kiki yang sedang
asik bbm-an. “eh? iya…aku nggak sengaja menabrak dia!” ucap iqbaal tersenyum.
“ah? Enggak kok, kan aku yang nabrak kamu!” aku mencoba membenar kan cerita
yang terjadi. “yaaa…susah dong nih kalau saingan nya itu iqbaal!” ucap aldi
yang terlihat repot memain kan rambut nya. “ha? Apaan sih, ya enggak lah orang
aku juga baru kenal!” iqbaal melihat aldi. “eh..maaf sebelum nya ya! Aku harus
pergi dulu! Lagi banyak tugas nih!” aku langsung kabur dari mereka berempat. Aku
pulang ke arah rumah ku mengayuh sepeda ku sendirian. “siang ma! Aku sudah
pulang!” teriak ku melepas kan sepatu ku. “kamu sudah pulang cha? Mama udah
nyiapin makan siang buat kamu tuh!” ucap mama ku yang menunjuk ke arah makanan
yang tertata rapi di atas meja makan. “iya ma..oh iya! Nanti sore chaca mau
pergi ke tempat temen, mau ngerjain pr!” ucap ku yang langsung duduk menyantap
makanan yang berada di meja makan. “oh ya? Whaaa..baru masuk sekolah saja kamu
udh dpat teman baru! Semoga aja kamu betah tinggal di Indonesia ya cha!” ucap
ibu ku yang tersenyum terhadap ku. “iya dong..mama kan orang Indonesia, aku
ikut mama aja!” jawab ku. “tapi kamu harus tetap sayang dan turut sama papa
kamu yang masih di London sana!” ibu ku mengelus rambut ku. “eh? ya udah deh
ma, aku mau siap2 pergi dulu!” ucap ku yang langsung bergegas mengemas kan
peralatan yang di butuh kan. Sebenar nya baru kali ini juga sih aku pergi ke
tempat celia,jadi aku takut nyasar. Cukup lama aku berkeliling di sekitar
tempat itu, tapi tak satu pun yang aku dapat, “dimana sih rumah celia? Duh
nyasar deh pasti nya nih!” pikir ku yang kebinggungan. “kamu nyasar ya?” Tanya
seorang pria yang terdengar berada di belakang ku. “iya nih..aku mau nyari
rumah temen aku! Tapi….” Sejenak ku balik kan badan ku, aku terdiam berpikir
sejenak. “iqbaal?” ucap ku pelan tapi pasti. “apa yang kamu lakukan di sini?”
tambah ku langsung berpaling. “aku habis belanja ke pasar, kata celia sih bakal
ada temen nya yang istimwa yang mau datang ke rumah. Maka nya aku beliin kue
dan sedikit cemilan!” jawab nya tersenyum. “ouh….baal, kamu tau rumah nya celia
ya?” Tanya ku. “iya…memang nya kenapa cha?” Tanya nya yang heran melihat ku.
“mau ke rumah nya celia, aku kesasar aku nggak tau ada dimana nih!” jawab ku
malu. “oh jadi kamu yang mau ke rumah celia?! Kalau begitu biar aku antar aja!
Mau nggak?” Tanya nya yang sedang mengulur kan tangan nya. “ehmm…baiklah..!”
aku menerima pertolongan dari iqbaal, nama nya juga udah kepepet mau gimana lagi. Ku lihat iqbaal yang sedang mengayuh
sepeda nya, “kenapa aku senyum2 nggak jelas seperti ini sih?” pikir ku yang
duduk di belakang. “oh iya cha…kamu baru kan di sini?” iqbaal memulai membuka
pembicaraan. “sebenar nya sih tidak juga, aku sudah lama tinggal di sini.
Mungkin sekitar 2 tahun!” jawab ku . “oh ya? Tapi kok kamu terlihat tidak
banyak mengenal Indonesia?” ucap iqbaal yang tertawa kecil. “ya iyala, Cuma 2
tahun doang, saat itu umur ku juga masih 4 tahun! Saat aku tinggal di sini, aku
punya 1 teman yang sangat ingin sekali kutemui, tapi aku lupa dengan nama nya
apalagi wajah nya! Dia menyanyikan sebuah lagu untuk ku! Aku masih mengingat
lirik yang dia buat kan untuk ku!” terang ku mengingat masa lalu ku.
“apakah kau masih
mengingat lirik nya?” Tanya iqbaal
“emmm…masih..apakah
kau ingin mendengar nya?”
“ya..aku ingin
mendengarnya!” pinta iqbaal
“kau dengar nyanyian angin yang selalu
berbisik di telinga mu..
Dan menghembus kan rambut mu yang indah di
bawah terang bulan…
Kita bersama dalam susah dan senang..
Aku senang saat bersamamu….”
“dan inilah lagu ku untuk mu” sambung iqbaal yang menatap ku.
“loh? Kok kamu
bisa tau sih?”
“hehe…enggak kok,
sebenar nya lirik lagu itu selalu datang sedikit demi sedikit di dalam pikiran
ku!”
“oooohhh…”
Di dalam
perjalanan yang sangat menyenang kan bagi ku, iqbaal yang mengantar ku sampai
ke rumah celia. Akhir nya sampai juga….
“makasih baal udh
mau ngatarin aku!” ucap ku yang langsung menuju ke depan pintu celia, ku lihat
celia menunggu di sana.
“syukur deh kamu
nggak nyasar!” ejek celia tersenyum kecil
“sebenar nya aku
bakal nyasar kalau nggak ada iqbaal!”
Ku lihat iqbaal
yang langsung saja masuk ke rumah celia tanpa meminta izin kepda celia.
“eh? baal..kenapa
kamu langsung masuk aja? Kan nggak sopan!” ucap ku yang menarik baju iqbaal.
“eh? tapi…” ucap
iqbaal terpotong.
“emmm…cha, iqbaal
itu sepupu aku jadi hal itu wajar aja bagi ku!” jawab celia yang membuat ku
malu.
“ha? Eh? maaf
baal!” ucap ku tersenyum malu.
“jadi dari tadi di
pasar kamu nggak dengar apa yang aku bicarakan dong ya?” ucap iqbaal.
“memang nya apa
yang kamu bicara kan?”
“huuufff…kau
memang tak dapat di andal kan!” ucap iqbaal memasang wajah yang membuat ku jadi
kesal.
“ya udah..masuk
dulu yuk cha!? Aku mau ngenali kamu sama ibu ku!” ajak celia menarik tangan ku.
Saat celia menarik
tangan ku, ku lihat iqbaal yang masih berada di depan pintu tersenyum melihat
ku dan melambai kan tangan nya.
“ma…perkenal kan
ini chaca teman sekolah aku! Dia anak baru, tapi dia sangat baik! Sangat
berbeda dengan teman2 celia yang lain nya!”
“oh chaca? Bagus dong, soal nya celia nggak pernah bawa teman2 nya ke
rumh!” ucap ibu celia tersenyum kepada ku. “
“yuk kita ke kamar ku! Aku punya sesuatu untuk ku tunjuk kan ke kamu cha,
keren banget sumpah!” celia terlihat sangat antusias.
“ehmmm...baiklah!” jawab ku.
Celia membawa ku ke kamar nya yang penuh dengan boneka2 lucu, kamar yang
lumayan besar untuk dirinya sendiri. “eh cha, tapi jangan ribut2 ya!” ucap
celia membuat ku penasaran. “memang nya kenapa?” tanya ku. “ soal nya sebelah
kamar iqbaal! -,-“ “ jawab celia singkat. “ahhh..aku kira apaan.”
“eh, ini dia yg pengen aku tunjukkin ke kamu!” ucap nya sambil menuju kan kotak
persegi panjang berwarna coklat.
“apaan tuh?” tanya ku heran.
“buka aja!”
Sejenak ku perhatikan kotak tersebut, terlihat sangat aneh. Terlihat sangat
tua dan di saat aku buka kotak tersebut.
“eitttsss....jangan di buka!!!!” teriak iqbaal yg tidak sengaja lewat di
depan kamar celia dan melihat kotak tersebut.
“kenapa memang nya baal?” tanya ku makin penasaran.
“ini kotak yg aku cari2, dan di dalam nya itu sangat rahasia bagi ku!”
tutur nya memeluk kotak tersebut.
“memang nya itu kotak apa kak?” tanya celia terduduk di samping ku dengan
wajah penuh tanda tanya.
Terlihat wajah iqbaal yg memerah tanda malu.
“enng..enggak kok! Ini Cuma music box!” ucap nya masih tetap memeluk erat
kotak tersebut.
“kalo music box kenapa kamu kelihatan malu gitu?” tanya ku mendekat ke arah
iqbaal.
“eh? Stop jangan mendekat! Oke baiklah aku akan jelas kan apa arti kotak
ini untuk ku!” iqbaal mulai angkat bicara tentang kotak yg membuat ku dan celia
menjadi penasaran.
“kotak ini berisi lagu yang sangat aku sukai, dan sekarang sudh tidak ada
di jual. Maka nya aku sangat sayang!” jelas nya membuat ganjil, yg benar saja
aku masih tak percaya dengan kata2 nya.
“kau pasti berbohong! Kalau hanya lagu kenapa kau terlihat malu seperti
itu?” ucap ku mengintrogasi iqbaal.
“eh? Itu?” iqbaal terlihat gugup.
“ayo lah kak, jangan buat kami semakin penasaran!” celia terlihat tidak
sabaran.
“apa jangan2 isi nya adalh........!”ucap ku bersamaan dengan celia.
“apa? Tidak.........!!! wajah kalian menyeram kan!!!!” teriak iqbaal
berlari ke kamar nya.
“huuu...memang nya wajah ku menyeram kan ya celia?” tanya ku heran.
“hiks...hikss....kak iqbaal jahat! Masa aku di bilang seram!!!” celia
berkaca sambil nangis2 tidak jelas karna ulah iqbaal.
IQBAAL POV
“huuff...syukur deh mereka belum membuka kotak ini, terutama untuk chaca!”
pikir ku yang merasa lega.
Aku berjalan menuju tempat tidur ku, sejenak terlintas ekspresi wajah celia
dan chaca yg lucu dan membuat ku tertawa. “haha...mereka sangat lucu, tak
pernah aku melihat celia segembira itu! Aku senang chaca adalah org yg di pilih
untuk jadi teman celia” batin ku menginggat chaca. “eh? Apa yg kau bayangkan
baal? Kenapa kau memikir kan chaca?! Hapus itu semua...!!!” teriak ku tak
tentu.
CHACA POV
“eh? Kak iqbaal kenapa ya? Periksa yuk!” ajak celia menuju kamar iqbaal.
“tapi itu kan nggak sopan..!”
“udh ikut aja!”
Perlahan celia membuka pintu kamar iqbaal dan...
“whaaattttt??????” ucap ku menutup mata ku.
“kak iqbaal? Sedang apa?” tanya celia polos.
“aaaahhhh...apa yang kalian lakukan disini??” teriak iqbaal memakai kembali
baju nya.
“maaf baal, ini celia yg ngajak dia khawatir dengan mu!” ucap ku mulai
membuka mata ku.
“huufttt...maka nya kalo mau ke kamar orang harus ketuk pintu dulu!” ujar
iqbaal mendekati celia.
“kak iqbaal bau! Mandi sana!!!” ucap celia.
“ah? Kau memalukan ku celia! Tadi itu aku mau mandi kenapa kau buka pintu
nya, maka nya aku pakai baju lagi! Sudah pergi sana!” iqbaal terlihat marah.
“kak iqbaal jeyek!!” celia mengejek iqbaal yang masih berdiri di depan pintu kamar nya.
“haha...triple beda kalo iqbaal dan celia di sekolah sangat lah jarang
bicara, tapi di rumah mereka terlihat sangat akrab!” pikir ku tersenyum.
Siang telah berganti sore, waktu nya untuk pulang ke rumah.
“celia, aku pulang dulu ya?! Besok ketemu lagi di sekolah! Aku pulang dulu
ya tante! Aku pulang dulu baal!” ucap ku tersenyum.
“iya...sampai ketemu besok cha!! Aku senang kau datang ke rumah!” teriak
celia yg melambaikan tangan nya.
“ehmmm...aku senang dapat bergaul dengan kalian!” pikir ku senang.
Terasa sangat cepat malam yang ku lalui, pagi telah menyapa ku, dan
ternyata hari ini hari sabtu. Entah apa yang ku pikir kan dan apa yang ku
impikan, aku sangat senang sekali saat mengayuh sepeda ku menuju sekolah.
“selamat pagi...sendiri aja?” sapa seseorang yang juga mengayuh sepeda nya.
“oh...pagi juga! Enggak kok aku berdua sama temen!” jawab ku melihat wajah
pria tersebut.
“siapa itu?” tanya nya kelihatan penasaran.
“kamulah!” jawab ku dengan singkat.
“hey...kau tau, aku baru mengenal mu tapi aku sangat tertarik untuk
berteman dengan mu!” ujar nya fokus menatap ke depan.
“oh ya? Ehmm...memang nya kau tidak mempunyai teman?” tanya ku.
“ehmm...ada, yaaa aku juga akrab dengan mereka! Eh..baru kali ini celia
mengajak teman nya ke rumah, dan kamu sangat beruntung loh cha!” ujar nya
mengalihkan pembicaraan.
“ehmm...iya, aku beruntung! Dan kamu juga beruntung loh bisa berteman
dengan ku! Hehe...” ejek ku mengayuh laju sepeda ku.
“bagaimana kalau kita balapan sepeda, siapa yg dulu nyampe di tempat
parkiran dia yg menang!” ajak iqbaal tersenyum mengayuh sepeda nya.
“oke...yg kalah harus jamin ke kantin ya !” tambah ku.
“ehmm...baiklah! aku setuju!” ucap iqbaal.
Aku dan iqbaal pun mengayuh dengan laju sepeda yg kami duduki.
Dan..........
“yeheeee...aku nyampe dulu, iqbaal kalah!” ejek ku joget2 nggak jelas.
“hehe...ternyata kamu hebat juga ya! Baiklah seperti yg kita janji kan, aku
bakal jamin kamu nanti istirahat!” ucap nya menyimpan sepeda.
“huuufttt...aku lupa sesuatu nih!” ucap ku tiba2 tak bersemangat.
“lupa apaan?” tanya iqbaal yg berjalan di sampingku.
“hehe..aku lupa ngerjakan pr matematika!” jawabku tertawa sendu.
“jiaahhh...! memang tadi malam kamu ngapain sampe lupa ngerjain pr segala!”
iqbaal mulai ceramah panjang lebar gitu.
“ya udah deh, kamu boleh ngeliat punya aku! Tapi hanya hari ini aja
ya....!” tambah nya yg membuat ku tak percaya.
“yang bener baal? Kamu mau nyontakin aku?” tanya ku memastikan.
“iya...ayo cepat2 masuk ke kelas!” ajak nya.
Pagi itu di dalam kelas yg sangat riuh dengan suara murid2 yg berusaha
untuk menyontak teman2 nya. Yang benar saja, saat aku dan iqbaal memasukki
kelas semua mata tertuju kepada ku dengan tatapan sinis. “eh? Apa yg terjadi?”
batin ku binggung.
“ya udah, nih cha! Ehmmm...” ucap iqbaal sembari memberikan buku latihan
mtk nya.
“eh..tumben iqbaal mau nyontakin seseorang?” bisik seorang murid
“iya...aneh banget deh!” jawab seseorang.
Aku mendengar semua perkataan itu, memang terasa aneh untuk ku. Iqbaal
memang selama ini yang aku tau nggak pernah nyontakin siapa pun, “ya udah deh,
rejeki aku kali hehe...” batin ku merasa beruntung. Cukup lama aku ngerjain pr
mtk itu, ku lihat iqbaal yang memandang ke arah jendela. Iseng2 ku lihat siapa
yg di lihatin iqbaal selama ini sampe2 membuat nya selalu fokus melihat ke arah
lapangan volly. “eh? Itu kan?” ucap ku tak percaya. “eh? Chaca, udah selesai ya
ngerjain nya?” tanya nya mengubah topik pembicaraan.
“ehmmm...iya udah selesai!” jawab ku meninggalkan iqbaal.
“eh? Chaca? Mau kemana?” teriak iqbaal.
IQBAAL POV
Aku binggung dengan sifat chaca yang tiba2 berubah, rambut nya yang terurai
panjang menutupi wajah nya.
“ada apa dengan dia ya?” batin ku terus bertanya-tanya.
“loh sih melamun terus!” ujar bastian yang duduk di belakang ku.
“iya...kasihan dia, daritadi dia merhatiin loh mulu, loh nya nggak ada
respon ke dia!” tambah aldi.
“dia daritadi merhatiin loh yang lagi merhatiin kayla itu!” tambah kiki
yang duduk di depan ku.
“apa benar? Hmmmm...tapi kenapa dia harus marah gitu? Apa mungkin dia marah gara2 aku nggak
responin dia?” pikir ku mencoba memecahkan masalah.
“eh...daritadi loh itu malah melamun mulu, loh nggak nyadar kalo ini udah
istirahat?” ujar bastian yang terlihat heboh sendiri.
Kata2 bastian membuat ku terkejut “yang benar saja?” tanya ku terkejut.
“eh..udhlah jangan banyak ngomong, langsung ke kantin aja yuk?!” ajak kiki
siap untuk go on.
“oke deh...!” ujar ku.
CHACA POV
“huuft...iqbaal memang gak bisa di andalkan! Aku benci!” gerutu ku dalam hati.
Aku terus berjalan menuju perpustakaan, yang benar saja aku melihat iqbaal
yang brjalan menuju ke arah ku. “buat apa sih dia ke sini?” gerutu ku tak
henti. Aku memasuki perpustakaan tanpa melihat lagi dan bruakkk.
“eh? Maaf ya..kamu nggak apa2 kan?” tanya seorang pria yang ku lihat
berdiri di depan ku.
“eh? Aku nggak apa2 kok......” aku tak dapat berkata sedikit pun saat
melihat wajah nya yang tersenyum terhadapku.
“yang benar? Eh..kelihatan nya kamu anak baru ya?” tanya nya memulai
pembicaraan.
IQBAAL POV
Ku lihat chaca yang sedang bersalaman dengan orang yang sangat aku benci
dalam bersaing basket.
“apaan sih! Kenapa sih aku geregetan seperti ini? Kenapa juga sih tuh cowok
ngajak kenalan ama chaca, pake acara senyum segala!” gerutu ku tak menentu.
“eh lihat deh, itu kan chaca?! Eh..dia kok sama kakak loh baal?” tanya
kiki.
“nggak tau juga!” ucap ku singkat dengan nada kesal.
CHACA POV
“aku Gelschaft redfiendcy, panggil aja
chaca!” ucap ku tersenyum malu.
“ooohhh...nama kamu bagus sekali, seperti orang nya!” puji nya.
“hehe...thanks, eh..kalo nama kamu siapa?” tanya ku.
“eh iya..nama aku cakka kawekas nuraga, panggil aja cakka!” ujar nya.
“cakka ya? Keren dan tampan sekali!” batin ku.
“oh iya...kamu kelas berapa? Kalau aku kelas XI IPA..” tambah nya.
“aku kelas Xc...” ucap ku
agak nyanggung.
“ouh....tapi kamu sangat manis, eh aku boleh minta nomer hp kamu gak? Ato
kamu pake bb nggak?” tanya nya yang membuat ku semakin salting tak menentu.
“ini nomer aku 0512*****, ehmmm...aku nggak pake bb, aku nya pake android!”
ucap ku.
“oke...thanks ya, aku pergi dulu senang bertemu dengan kamu!” ucap nya yang
membuat hati aku semakin dag dig dug.
“dia .....tampan!” batin ku melihat nya berlari ke arah lapangan basket.
IQBAAL POV
“huuft....udahan ah guys, aku ke kelas aja! Udah enek mau pergi ke kantin!”
ujar ku langsung berpaling menuju ke karah kelas.
“jiaahhh...iqbaal cemburu nih!” ejek aldi membuat ku merasa aneh.
“siapa juga cemburu, aku nggak suka sama chaca kok!” ucap ku tidak
memperdulikan ejek kan aldi.
Saat aku membalik
kan badan, ku lihat chaca yang berjalan menuju ke arah kelas.
“eh...ya udah
deh..aku males mau ke kelas, aku ke kantin aja!” ucap ku dengan perasaan campur
aduk.
“udah ngubah
pikiran nih?” Tanya aldi.
“eh...sudah lah
guys, ayo cepetan ke kantin!” ajak kiki.
CHACA POV
Di saat aku berjalan menuju kelas,
ku lihat iqbaal, aldi, bastian dan kiki yang berjalan bersama. Aku nggak tau
dia mau kemana, tapi perduli apa mereka sama aku? Saat aku berjalan di samping
iqbaal, ku lihat wajah iqbaal yang berpaling dariku. Loh kenapa jadi iqbaal
yang marah sama aku? Padahal dia yang cari masalah sama aku nya! Gerutu ku tak
berhenti menyelimuti hati ku.
Aku terus
berjalan, di depan kelas aku masih memikirkan hal yang baru saja aku alami. Dan
di saat aku mau memasuki kelas......
“eh...loh liat
nggak tadi, si chaca caper banget di depan cakka!” bisik salah satu siswi yang
melihat ku dengan tatapan sinis.
“oh ya?”
Aku tak
memperdulikan semua itu, saat aku duduk di bangku....
“eh...loh kan yang
nama nya chaca?” Tanya seorang perempuan yang terlihat sangat tidak menyukai
ku.
“eh...loh jangan
dekat2 dengan cakka ya! Apalagi mendekati iqbaal! Jangan mentang2 loh duduk
disamping iqbaal loh bisa ngambil iqbaal!” ucap jelica dengan wajah yang
mengerikan untuk ku.
“kenapa kamu nggak
senang?!” celetuk celia yang duduk satu bangku dengan ku.
“ouh....adik ku
yang manis ini sudah pandai melawan ya?” sahut nya dengan tatapan sinis nya.
“eh...sudahlah,
ini masalah ku cel! Jadi biar aku saja yang menyelasaikan ini!” ujarku.
“tapi ini udah
kelewatan cha!” teriak celia yang berdiri memandang jelica dengan tatapan
ketidak terimaan.
“seterah apa yang
mau loh omongin, tapi aku nggak ada urusan sama loh anak cenggeng!” sindir
jelica yang melihat celia.
“eh...aku nggak
mau cari masalah ya disini!” ucap ku menggertak jelica.
“eh jelica...chaca
tuh cantik, baik, wajar aja kalau dia di segani sama cakka, nggak seperti
kamu!!!” ujar celia yang membuat ku binggung antar malu dan senang.
“chaca itu nggak
ada apa2 nya! Masih mendingan gue kali!” puji jelica terhadap dirinya sendiri.
“oh ya? Kalo gitu
napa cakka dan iqbaal nggak mau deket2 sama loh!! Ya karna loh matre!!” celia
mulai tampak marah.
“celia sudahlah,
jangan terbawa emosi! Diam saja!” ujar ku meredakan kemarahan celia.
“tapi dia udah
keterlaluan cha!” celia mencoba duduk.
“kita liat aja,
siapa yang bisa dapatin iqbaal atau pun cakka!” jelica seperti mengajak
taruhan.
“percuma aja, aku
nggak suka sama mereka berdua! Aku hanya ingin mencari teman disini!” ucap ku
mencoba menyakin kan jelica, tapi apa..
“ha? Loh takut ya
cha? Yaaa...wajar aja, loh itu kan jelek, nggak ada apa2 nya, orang seperti loh
itu seharus nya nggak ada di sekolah ini, orang tua nggak jelas, bokap kemana,
nyokap hanya ngandalin
orang lain!” tutur jelica yang membuat telinga ku pedas mendengar kata2 nya.
“eh...kamu boleh
ngata2in aku, tapi jangan pernah masukin orang tua aku!” ujar ku mulai
mendekati jelica.
“kenapa? Loh takut
gue bongkar semua masa lalu suram loh itu?! Anak manja!” jelica menatap ku
dengan tatapan sinis yang semakin dalam membuatku hanyut akan kemarahan ku yang
tak dapat aku pendam.
“eh...apaan sih
ini ribut2..?” iqbaal menegur dengan wajah yang kelihatan kebinggungan yang
menyelimuti nya.
“ouhh...kebetulan
sekali iqbaal ada disini! Gue
lagi buat taruhan dengan chaca nih, lebih baik kamu yang jadi juri nya!” ucap
jelica dengan tenang nya.
“aku tidak akan
menyetujui nya!” tegas ku.
“memang nya apa
taruhan nya?” Tanya iqbaal mungkin penasaran.
“taruhan nya mudah
sekali, kamu kenal dengan cakka kawekas nuraga bukan?” Tanya jelica.
“ada apa dengan
kakak ku?” Tanya iqbaal.
“ dialah yang akan
jadi barang taruhan nya! Permainan nya mudah sekali, siapa yang bisa buat cakka
jatuh cinta dialah yang menang!” tegas jelica menghadap iqbaal.
“tapi kenapa harus
kakak ku dan chaca?” Tanya iqbaal menunduk.
“karena aku tidak
suka dengan cewek caper yang dekat2 sama cakka!” jawab jelica memainkan rambut
nya.
“aku tidak ingin
masuk dalam taruhan ini, sumpah aku disini hanya ingin mencari teman. Aku tidak
ingin berpacaran! Iqbaal, tolong dengar aku!” teriak ku melihat iqbaal yang
menunduk kan kepala nya.
“ kak iqbaal?
Jawab kak! Kakak nggak mungkin kan menyetujui hal seperti ini?” celia dengan
perasaan curiga.
Kulihat iqbaal
yang masih menunduk kan kepala nya, tiba2..
“emmm...baiklah
aku menyetujui nya, tapi apa yang terjadi jika seseorang kalah dalam taruhan
tersebut?” iqbaal mulai membuka suara nya.
“iqbaal? Nggak
mungkin!!” batin ku tak percaya dengan kata2 iqbaal yang barusan dia sebutkan.
“jika seseorang
ada yang kalah, dia harus keluar dari sekolah ini!” tegas jelica yang membuatku
terkejut.
“keluar?” ucap
celia kecil.
“ehmmm...baiklah!”
jawab iqbaal menyetujui teruhan tersebut.
“iqbaal? Kau
sangat jahat! Kenapa kau menyetujui semua taruhan konyol seperti ini? Apa kau
memang menginginkan aku keluar dari sekolah yang baru saja aku segani ini?!
Kenapa baal? Jawab!” ujar ku terduduk diam tak percaya dengan kejadian yang
mulai semakin sulit untuk aku jalani sendiri.
Entah apa yang di
pikirkan iqbaal, tapi aku sangat benci dengan semua yang dia lakukan pada hari
ini. Taruhan itu pun mulai berjalan dengan aturan bertahan hingga 2 minggu
saja. Aku merenungi itu semua, aku mulai berpikir untuk keluar saja dari
sekolah ini.
“jika itu yang kau
ingin kan, lebih baik aku keluar saja langsung dari sekolah ini! Mungkin memang
benar aku tidak cocok untuk berteman dengan kalian!” ucap ku merangkul tas ku.
“chaca?” celia
menahan tangan ku.
“chaca? Jangan
bodoh!” aldi menahan ku.
“iqbaal? Apa sih
yang loh pikirin? Loh temen apa musuh sih?” tegas bastian yang mendekati
iqbaal.
“ jelica! Kita tau
ayah loh itu kepala sekolah disini! Tapi tidak seperti ini cara nya!” ucap
kiki.
“tidak apa2
guys...aku nggak apa2 kok!” ucap ku menahan air mata.
Ku lihat iqbaal
masih menunduk diam.
“eh...ada apa nih?
Kenapa pada ramai sekali disini?” Tanya seseorang yang memecahkan keheningan
ini.
Ku lihat wajah
pria tersebut.
“cakka?” batin ku
menyebut nama nya.
“chaca? Kenapa
kamu merangkul tas kamu? Kan kita belum pulang? Hey...kenapa kamu menangis?”
Tanya cakka yang mendekati ku.
“stooppp!!! Jangan
dekati aku!” teriak ku menahan tubuh cakka.
“ada apa
cha? Ada yang salah sama aku? Padahal baru saja kita berteman!” ujar nya.
“sudahlah kak,
chaca memang orang nya seperti itu! Dia itu hanya mau kenalan sama kakak karna
kak cakka itu kaya!” ujar jelica.
“apa benar seperti
itu cha?” Tanya cakka mendekati
ku.
Aku hanya diam.
“aku harus
pergi!!” tutur ku meninggal kan kelas yang terasa sangat pedih untuk ku tinggal
kan.
“ cha tunggu!!’
teriak celia.
IQBAAL POV
“kenapa chaca bisa
seperti itu? Padahal dia itu perempuan yang ceria, kenapa berubah drastis seperti ini?” cakka
terlihat binggung.
“itu semua karna
ulah iqbaal!” ucap bastian yang terlihat mulai membenci ku.
“iqbaal? Kamu
apain chaca? “Tanya cakka dengan serius.
“tidak...itu bukan
urusan mu!” jawab ku singkat, aku langsung duduk di bangku ku.
CAKKA POV
Tak mungkin aku akan menunggu
jawaban yang keluar dari mulut iqbaal, walaupun kami saudara, tapi kami tidak
lah akrab. Aku mencoba mengejar chaca, ku lihat dia telah keluar dari pintu
gerbang sekolah. Habislah kesempatan ku.
“pulang sekolah
aku harus menjenguk nya!” batin ku kembali ke kelas ku.
CHACA POV
Aku berjalan pulang,
sebenarnya aku tidak tau apa yang aku lakukan sampai2 aku harus pulang kerumah.
“iqbaal bodoh!! Aku benci iqbaal!! Seenak nya aja menjawab, masa aku harus
keluar dari sekolahan tersebut hanya karna sebuah taruhan sih?? Gila banget tuh
anak! Apalagi jelica! Mentang2 anak kepala sekolah, seenaknya aja buat taruhan
seperti itu!” keluh ku di perjalanan ku.
Aku hanya berjalan tanpa
pikiran apapun, tapi aku masih memikirkan iqbaal, “kenapa dia menyetujui
taruhan tersebut?” pikir ku binggung.
“chaca? Kenapa awal sekali kamu pulang?” teriak ibuku yang sedang membeli
sayuran di depan rumah.
“aku lagi nggak enak badan saja ma, maka nya aku disuruh pulang awal!”
jawabku berbohong.
“ouhh..kalau begitu kamu istirahat aja dulu ya?” ujar ibuku terlihat
khawatir.
“iya...jika itu akan membuatku tenang!” batin ku menjawab..
IQBAAL POV
Pelajaran terakhir sedang
berjalan, aku merasakan hal yang tidak wajar. Kelas sangat sepi rasanya tanpa
chaca, aku sangat suka saat melihatnya menunjukkan tangan nya untuk menjawab
pertanyaan dari guru dan mengedipkan mata nya. Sekarang yang kulihat, celia
hanya duduk sendiri tanpa chaca, bastian duduk dengan kiki, aldi tak pernah
bertanya dengan ku kalau dia enggak ngerti. Mereka tidak menganggapku ada,
itulah hal terbodoh yang aku lakukan hari ini. Ku lihat jelica yang lagi sibuk sms
dan tersenyum-senyum dengan sendiri nya.
Ku lihat pemandangan
diluar jendela, ku lihat kayla lewat dengan teman2 nya dengan senyum yang manis
ku rasa...
Tapi aku merasakan rindu karna chaca nggak ada ikut belajar bersama.
Teng..teng...
Bel berbunyi dengan keras, membuatku terkejut..
Semua murid telah pulang satu persatu, tinggal lah aku dan celia di dalam
kelas.
“kenapa kamu belum pulang celia? Nanti dicari ibu?” ucapku.
“buat apa aku pulang?! Baru saja aku mempunyai teman yang sangat aku
sayangi seperti keluarga ku sendiri, eh malah dapat masalah dan disuruh keluar
dari sekolah ini hanya karna sebuah taruhan yang konyol!” tegas celia yang
merangkul tas nya dengan ekspresi marah terhadapku.
“kenapa kamu yang harus menyesal?” ujar ku menahan tangan celia.
“karna aku melepaskan tangan ku dari chaca!! Dan dia pergi begitu saja dari
pandangan ku tanpa pamit! Apalagi orang yang bersalah tersebut tidak mau
meminta maaf dan tidak tau dengan kesalahan yang dia buat!” ujar celia yang
menahan tangis dengan nada membentak ku dan meninggalkan ku sendiri.
“apa yang telah aku lakukan? Aku memang tak berguna!” teriak ku.
Pulang sekolah hanya
sendirian, mengayuh sepeda pulang kerumah tanpa terdengar tawa dari bibir nya.
Tadi pagi aku juga tidak sempat untuk memberikan hadiah kepada nya.
“iqbaal? Kenapa kamu terlihat lesu seperti itu?” tanya ibuku memegang
pundak ku.
“tidak..iqbaal hanya lelah ma!” jawab ku mencoba tersenyum
“cie.cie...ada yang galau nih yeee....” ejek teh ody terhadap ku.
“yeee....ngarang aja!” aku langsung berlari menuju kamar ku.
“ouh iya baal, teteh mau bilang, kalau cakka tadi izin mau pergi kerumah
chaca temen kamu itu! Kamu nggak pergi kerumah chaca juga?” tanya teh ody.
“enggak aku nggak bisa pergi! Makasih info nya teh!” ucap ku tanpa melihat
wajah teh ody.
“ale kenapa ya? Biasa nya ceria banget kalau pulang sekolah, apalagi kalau
dengar tentang chaca!” keluh tehh ody.
Di kamar ku yang cukup
luas, aku langsung saja merebahkan tubuh ku di tempat tidur. Sejenak aku
memikirkan apa yang dilakukan cakka di rumah chaca. Ku lihat music box yang ada
di samping ku, ku putar kotak tersebut, aku pun teringat akan masa lalu ku
bersama seorang gadis yang cantik dan menangis karna harus pergi meninggalkan
ku. Dan gadis itu memberikan kotak musik ini kepada ku.
CAKKA POV
“Chacha ada dirumah nggak
ya? “ kata2 itulah yang ku pikirkan saat ini. Aku masih berjalan menuju rumah
chaca, ku lihat didepan rumah nya sangat ramai sekali orang2 yang membantu
mengangkat barang2 dari rumah chaca.
“ada apa itu?” batin ku binggung.
Aku langsung berlari dengan cepat untuk mencari tau apa yang terjadi.
Ku dekati ibu2 yang terurai rambut nya, wajah nya pun sangat mirip dengan
chaca.
“maaf bu, emm...ada apa ya? Kenapa barang2 rumah tersebut di keluarkan?”
tanya ku dengan penuh tanda tanya.
“itu hanya barang2 anak saya kok!” jawab ibu tersebut tersenyum.
“memang nya anak ibu siapa?”
“anaka saya nama nyaa chaca! Saya ibu nya!” ujar ibu tersebut masih tetap
tersenyum
“kenapa harus dikeluarkan bu?” tanya ku masih penasaran
“kami mau pindah ke jepang dulu untuk sementara, kelihatan nya chaca enggak
betah di indonesia! Jadi mau refreshing dulu lah!” ujar ibu tersebut yang
membuatku terkejut.
“chaca nya ada bu? Saya boleh ketemu sama dia? Saya teman nya!” ujar ku
tanpa basa-basi lagi.
“ada, boleh, ouhh! Masuk saja!” jawab ibu chaca.
Aku pun memasuki rumah
chaca dengan penuh tanda tanya, “dimana chaca?”.
Ku lihat dia duduk di depan tv yang lumayan besar, bersama celia yang
sedang bergurau.
“chaca?” ucap ku kecil tapi masih terdengar oleh celia.
“kak cakka? Apa yang kakak lakukan disini?”celia terlihat senang.
“cakka? Apa yang?” tanya chaca terlihat binggung.
“kamu mau kemana cha?” tanya ku mendekati chaca.
“aku mau ke jepang untuk beberapa hari! Mungkin sekitar 1 bulan!” jawab
nya.
“maka nya aku datang kerumah chaca!” tambah celia.
“kenapa harus ke jepang? Kenapa harus sampai 1 bulan disana?” tanya ku.
“aku mau ketemu sama nenek ku yang lagi sakit disana! Karna disana hanya
ada nenek ku, dan gak mungkin dia dapat bertahan sendiri. Pasti membutuhkan
waktu yg lama!” ujar chaca.
CHACA POV
Terlihat dari wajah celia
dan cakka yang sedikit sedih akan ke pergian ku untuk melanjutkan sekolah ku di
jepang.
“kamu udah mikir matang2 mau pindah sekolah ke jepang? Padahal kalau kamu
sampai tamat disini kan kita bisa barengan!” ajak cakka.
“emmm...aku kan Cuma 1 bulan disana, nanti kemungkinan besar aku bakal
pindah lagi kesini! Orang tua aku kan tinggal nya disini! Terutama ibu aku!”
ujar ku mencoba menghibur.
“ kapan kamu mau berangkat cha?” tanya celia.
“jadwal nya sih malam ini jam 8!” ujar ku berdiri dihadapan cakka dan
celia.
“kalian jangan sedih ya kalau aku pergi ke jepang, nanti kan aku kesini
lagi!” tambah ku tersenyum.
“tapi...bagaimana dengan taruhan nya?” tanya cakka.
“emmm...aku kan sudah bilang, taruhan itu sangat tidak masuk akal! Terlalu
kekanak-kanakan! Dan apalagi soal percintaan seperti itu!” ujar ku agak kesal.
“hehe..aku akan merindukan mu cha!” ucap celia tersenyum memeluk ku.
“mmm....nanti malam aku juga akan mengantar kamu sampai di bandara!” ucap
cakka memeluk ku.
“eh? Cakka? Memelukku?” batin ku merasakan senang dan sedih.
“aku harap begitu!” ucap ku tersenyum dan melepas pelan pelukkan cakka.
“tapi taruhan nya kan tentang bagaimana cara mendapatkan cakka dengan
ceepat!” ujar celia dan membuat perasaan ku nggak enak.
“iya cha, aku bisa aja pura2 jadi pacar kamu kan?” sahut cakka dengan
sebuah senyum di bibir nya.
“terima kasih udah mau membantuku, tapi....!” ucapan ku terpotong.
“tapi apa?” tanya celia dengan wajah penasaran.
“tapi bukan itu masalah nya! Masalah nya adalah aku harus menjenguk nenek
ku! Ingatkan!?” jawabku pelan.
Tiba-tiba saja suasana
menjadi hening dengan ucapan ku. Ku putuskan untuk membuatkan beberapa teh es
untuk di sedu.
“aku pulang dulu ya! Hari ini aku ada latihan basket!” ucap cakka yang
telah duluan menghabiskan teh es nya.
“iya...hati2 ya!” sahut ku dan celia.
“haha...kak cakka tumben mau mampir dirumah perempuan!” ucap kecil celia.
“apa benar?” bisikku tersenyum kecil.
“dia orang nya perhatian banget ya?! Nggak seperti kak iqbaal, cuek, pelit,
jahat!” omel celia dengan wajah nya yang sedang cemberut.
“tidak! Iqbaal nggak seperti itu kok cel! Dia nggak jahat!” ujar ku.
“apa nya yg nggak jahat? Kalau dia nggak jahat, pasti nya dia belain kamu
saat jelica yang membuat taruhan tersebut!” celia terlihat kesal.
“pasti dia melakukan nya karna ada satu alasan tertentu!” ucap ku meyakin
kan celia.
“alasan apa coba? “ sahut celia dan diikuti suara telpon genggam milik nya
yang berbunyi.
“hallo ma? Ada apa?” ucap celia saat mengangkat telpon tersebut.
“iyaa..iya....celia pulang!” tambah nya dengan wajah yg sedikit kesal.
“huuuf...aku disuruh pulang nih cha!” ucap nya dengan lemas.
“hati-hati ya cel! Aku pasti merindukan mu!” ucap ku memeluk celia.
“iya...aku senang bisa punya teman yang baik seperti mu! “ jawab celia
melepas pelan pelukkan persahabatan.
“jangan lupa ya, pulang dari jepang bawain aku bingkisan dari sana ya....!”
terlihat dari wajah nya yang bercanda.
Kedua teman ku udah pulang
kerumah, dengan hati sedih aku sendiri disini. Sebenarnya aku nggak rela
ninggalin indonesia, aku sayang negeri ini! Walaupun aku blasteran, tapi aku
mau ikut ibuku yang orang indonesia asli. Aku duduk sendiri di atas tempat
tidur ku, online, mendengar lagu, dan akhirnya aku tertidur.
Perlahan aku membuka mata
ku, mimpi yang telah berlalu. “chaca!!” teriak ibuku dari depan pintu kamar ku.
“ada apa bu?” jawab ku membuka pintu kamar, dengan wajah yang masih nggak
karuan.
“ada teman kamu nunggu di depan!” ucap ibu ku.
“siapa ma? Perempuan atau laki-laki ma?” tanya ku binggung.
“cowok! Udah cepat mandi dulu, biar mama suruh dia masuk rumah dulu!” sahut
ibuku.
Terpaksa aku harus mandi
lebih awal daripada hari biasa nya. Ku lihat jam menunjukkan 5 sore, “siapa ya
yang kerumah ku saat ini?” itulah pikiran ku. Setelah selesai dengan semua
keperluan ku, aku pun menuruni tangga one by one. Sejenak ku lihat pria yang
duduk di depan ibuku, dia sedang tertawa. Aku menghentikan langkah kaki ku, tak
percaya dengan apa yang ku lihat. Tawa khas nya mengingatkan ku kepada
seseorang 7 tahun lalu.
Tiba-tiba saja dia
melihatku dengan beberapa senyum yang tersisa di wajah nya.
“eh? Chaca, kenapa lama sekali kamu!” sahut ibuku membuat ku terkejut.
“eh? Maaf!” jawabku dengan perasaan binggung, sedih, senang, semua nya
bergabung menjadi satu di dalam hatiku.
“cepatlah, iqbaal sudah menunggu mu daritadi!” ujar ibuku.
“mengapa dia ada disini? Ada apa dengan senyum yang diberikan nya?” batin
ku tak berhenti membuat teori-teori aneh.
Aku hanya menatap tajam
kearah iqbaal, sedikit kesal, tapi sedikit pula senang.
“cha..aku mau ngajak kamu jalan boleh?” tanya iqbaal masih tersenyum.
“ada apa dengan iqbaal? Kenapa dia? Bodoh!!!” batinku terus mengonyeh.
“eh? Cha? Mama tinggal dulu ya! Kalau kalian berjalan mama bolehin kok!”
sahut ibuku yang membuatku terkejut sekali lagi.
“iya ma!” ucapku pelan.
Ibuku berjalan pelan
kearah dapur, wajah iqbaal sekarang malah terlihat sedih.
“aku ingin bicara sama kamu cha! Tapi tidak disini!” ucap nya dengan nada
sedikit sendu.
“kenapa tidak disini saja? Apa kamu malu untuk mengakui kesalahan mu
didepan mama ku?” kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut ku.
“tidak! Bukan itu, aku hanya ingin menunjukkan sesuatu sama kamu!” iqbaal
berjalan keluar dengan sedikit lemah.
Entah mengapa, aku
mengikuti iqbaal dari belakang. Perasaan ku sangat aneh, aku merasakan ada yang
tidak beres dengan nya.
“naik lah dulu ke mobil!” ujar nya membukakan pintu untukku.
“eh? Ada apa dengan dia?” pikirku masuk kedalam mobil.
Iqbaal hanya diam menatap
jalanan yang luas penuh dengan kendaraan dan orang-orang yang beraktifitas. Aku
hanya melihat nya sekilas, raut wajah nya yang masih cuek membuatku tidak betah
didalam mobil.
“udah sampai!” ujar iqbaal melihat ke arah samping.
Yang kulihat hanyalah
sebuah taman yang cukup besar, orang yang sangat ramai. Permainan yang penuh
dengan anak-anak.
“baal! Ada apa sih sama kamu?” tanya ku melihat iqbaal yang tetap melihat
ke arah seseorang.
Ku lihat jam yang melingkar di pergelangan tangan ku yang menunjukkan pukul
6.30.
“baal, aku harus tiba di bandara sebelum jam 7.30! nanti aku ketinggalan
pesawat!” tegas ku membuat iqbaal menoleh ku.
“daritadi dicuekin, dan sekarang ngeliat aku nya seperti mau dimakan!”
pikirku.
“kamu nggak bakal kemana-mana!” ujar iqbaal yang membuatku terkejut.
Iqbaal yang tak tersenyum
sedikit pun saat keluar dari rumah ku, menarik tangan ku dengan paksa.
“ada apa sih dengan dia? Nggak tau sakit apa? Nyesel deh aku bangun tadi
-,-“ pikir ku kesal.
Iqbaal membeli dua buah
permen kapas yang berwarna merah muda, dan yang membuatku tak percaya lagi...
permen itu diberikan setengah untukku.
“resek banget sih nih anak!” pikirku lagi.
“kenapa? Nggak suka ya?” ucap nya dengan nada sedikit mengejek.
“nggak makasih aja yang mr. Pelit!” ejek ku melepaskan tangan ku dari nya.
Aku berlari ke arah kursi
panjang, cukup tenang. Ku lihat orang-orang pada sibuk dengan pasangan nya
masing-masing.
“syukur lah aku sudah terbebas dari orang gila itu!” ucap ku dengan nada
yang sedikit kecil.
“siapa yang kau bilang orang gila?” sahut iqbaal yang berada di belakangku,
membuat ku berteriak ketakutan.
“ssssstttt....!” ucap iqbaal menutup mulutku.
“ehhhh..lepaskan aku!!” teriak ku dan membuat nya melepaskan tangan nya.
“bodoh sekali kamu!” ucap iqbaal dengan santai nya.
“apaaaaaa barusan yang kamu bilang!!!” aku menjadi sangat kesal dengan nya.
“maaf..maaf!” iqbaal masih melanjutkan untuk makan permen kapas nya.
“bagaimana dengan tadi pagi disekolah? Kenapa kamu nggak minta maaf!!” ucap
ku sedikit kesal.
Suasana menjadi hening,
tanpa sedikit kata pun yang keluar dari bibir iqbaal. Tapi dia menghentikan
makan ya.
“aku minta maaf! Sebenarnya aku tidak ingin menyetujui taruhan tersebut!
Aku hanya....” iqbaal terlihat mulai angkat bicara.
“eh?” aku melihat iqbaal yang menundukkan kepala nya.
“ku pikir kau akan suka dengan taruhan yang dibuat jelica!” ujar iqbaal.
“kenapa aku harus suka dengan taruhan seperti itu!?” sahutku kesal.
“karna aku berpikir kau menyukai cakka! Dan cakka juga pernah bilang kepada
ku jika dia sudah mendapatkan mu dia akan menjaga mu seperti apapun kondisi
nya!” jelas iqbaal yang membuat hatiku terhenyak mendengar nya.
“dan aku berpikir, kau juga akan pantas untuk cakka! Dan karna taruhan itu,
kau ingin meninggalkan indonesia kan?” tambah iqbaal melihatku.
“ehmmm...aku percaya apa yang kau katakan, tapi kenapa begitu? Aku kan
tidak menyukai cakkka, kau tau itu kan? Dan aku tidak meninggalkan indonesia
untuk selama nya kok!” ucapku tersenyum.
“aku pikir cakka yang kamu suka! Soal nya saat aku melihat kamu berbicara
dengan cakka di depan perpustakaan..... kalian hanya terlihat perfect!” iqbaal
masih meneruskan pembicaraan nya dengan sedikit ke kesalan.
“cakka ketua tim basket dari SMA ini, dan dia sangat terkenal di kalangan
perempuan-perempuan yang cantik! Dan kapan pun dia mau, dia bisa saja menembak
salah satu dari mereka! Dan itu pasti diterima!” iqbaal sedikit curhat kepada
ku.
“tidak semua perempuan tersebut akan menerima nya, seperti aku!” ucapku.
“cakka itu perfect loh, dan aku tidak ada apa-apa nya! Aku hanya pecundang
yang payah!” iqbaal terlihat kesal.
Perlahan aku memegang bahu
iqbaal, iqbaal melihatku dengan tatapan terkejut.
“disini kamu tidak akan tau siapa orang yang menyukai mu, tapi disana masih
banyak orang yang menyukai mu dengan hati yang tulus. Dan dia akan membagi nya
dengan senyum, kebahagiaan, kesedihan, kelaparan, kesendirian nya. Itulah yang
orang katakan, terserah apa yang kau pikir kan tentang dirimu sendiri! Tapi di
luar sana pasti ada seseorang yang menunggu dirimu!” jelasku membuat air mata
iqbaal menetes.
Iqbaal yang sedang
bersedih, mengaku kelemahan nya. Menangis di dalam pelukkan ku malam ini.
“aku harus pergi ke bandara sekarang!” ucapku melihat ke arah jam tangan
putih milik ku.
“kenapa kau harus pergi cha?” tanya iqbaal.
“nenek ku sakit dan aku akan sekolah disana selama 1 bulan mungkin!” ucap
ku mengulurkan tangan ku, mengajak iqbaal berdiri.
“bagaimana kalau aku yang mengantar mu sampai ke bandara?” ucap iqbaal.
“sebelum nya aku sudah mempunyai janji sama cakka! Tapi nggak apa-apa deh,
biar cakka yang ngantar ibuku!” ujarku menerima pertolongan iqbaal.
Perjalan menuju bandara,
aku sangat sedih harus meninggalkan orang yang aku sayangi sendiri disini. Aku
mencoba menahan tangis yang masih dapat ku bendung saat disamping iqbaal.
Akhir nya kami pun sampai ke bandara, ku lihat cakka dan ibuku sudah
menunggu disana.
“ayo cepat cha! Nanti kita ketinggalan pesawat!” teriak ibuku dari
kejauhan.
“baal...ini bukan terakhir kita akan berpisah! Aku senang punya teman
seperti kamu! Aku pergi dulu ya? Dan satu lagi... jaga kotak musik itu!” ucap
ku tersenyum meninggalkan iqbaal.
“iyaa...aku akan menjaga nya untuk mencari tau siapa perempuan 7 tahun yang
lalu!” teriak iqbaal membuatku terkejut jika iqbaal masih ingat akan 7 tahun
yang lalu.
“aku harap dia belum mengetahui nya!” batinku.
Malam ini, aku meninggalkan indonesia dan cerita ku sementara.
Ke jepang untuk
melanjutkan sekolah ku sementara.
Masih teringat akan
lagu yang di nyayikan oleh lelaki 7 tahun yang lalu.
Membuatku senang karna
aku telah menemukan nya.
Thanks buat support @mery_chepisces yang udah dukung
untuk buat cerita ini.
Thanks for @fionamaldini1 yang udah bantu buat lirik lagu nya .
Follow me at twitter : @nuruelious.
rvianti
